SEI RAMPAH-SR
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Tahun 2018 prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 30,8%. Angka ini menurun dari 37,2% pada Riskesdas tahun 2013. “ Menurut Riskesdas tahun 2018 di Sumut ditemukan 32,4% balita stunting dan untuk Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat ditemukan ada 30%,” .
Demikian dikatakan Bupati Sergai Ir. H. Soekirman pada  Seminar dan Workshop Gizi Buruk dan Stunting pada Balita di Kabupaten Sergai Kamis (23/1) di Aula Sultan Serdang Komplek Kantor Bupati di Sei Rampah
Lanjut Soekirman. Menurut data laporan bulanan gizi, lanjut Bupati, sampai bulan November 2019 dari 20 Puskesmas yang ada di Sergai ditemukan balita dengan kasus 2T sebanyak 349 balita, balita gizi buruk sejumlah 65 balita, gizi kurang 231 balita, stunting 79 balita dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 154 balita. Untuk target stunting 2019 Sergai 27,8% sedangkan pencapaian sampai dengan November 2019 adalah 2,02%.
Masalah ini menjadi perhatian khusus bagi Presiden Joko Widodo yang diungkapkan pada Rekernas tahun 2017 lalu. Saat itu Presiden Jokowi mengatakan bahwa “ tidak boleh ada lagi gizi buruk dan stunting yang terjadi di Indonesia”. Masalah gizi merupakan hal yang sangat kompleks dan penting untuk segera diatasi. Terutama karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai permasalahan gizi paling lengkap. Papar Soekirman lagi.
Sebelumnya Ketua Panitia kegiatan drg. Tatik Iswandari, M.Kes Peserta kegiatan ini berjumlah 165 orang yang berasal dari, Lintas Sektor, Lintas Profesi dan Organisasi Masyarakat. Aadapun tujuan diselenggarakan seminar ini adalah mewujudkan cita-cita Kabupaten Sergai untuk mewujudkan zero Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), stunting dan gizi buruk di Kabupaten Sergai melalui sinkronisasi program dan kegiatan yang ada di tingkat kabupaten, kecamatan, desa dan masyarakat menuju Sergai yang Unggul, Inovatif dan Berkelanjutan, kata drg Tatik.(BD01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here