C0813AA8-6584-4E56-A5E9-C8FF4B0D2CB9

Keterangan Foto : Rassya Priyandira

Menurut kajian, banyak kalangan menyebut anak-anak muda zaman now sebagai generasi millennial. Generasi ini lahir setelah zaman generasi  X, atau tepatnya  pada kisaran tahun 1980 sampai tahun 2000-an. Jadi dapat diperkirakan bahwa saat ini generasi millennial memiliki rentang usia 17 hingga 37 tahun. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 80 juta orang yang berusia antara 17 hingga 37 tahun.  Jumlah tersebut sangat banyak dan signifikan, mengingat populasi generasi millennial sudah mencakup 30 persen dari total penduduk di Indonesia.

Namun berbicara tentang puisi, kini identik dengan bahasa “penikmat senja”, “si pecinta indie”, “Melankolis”, dan sebagainya. Terlebih jika puisi dikaitkan dengan gaya hidup generasi millenial yang serba modern dan instan, maka tidak jarang mereka-mereka yang masih menggeluti dunia puisi sering dianggap kuno dan tidak memiliki daya tarik. Tapi ditanggan olahan pemuda millennial ini, seni budaya itu telah membuat pemikat terhadap setiap orang yang menikmatinya.

Tapi siapa sangka, Rassya Priyandira Pemuda kelahiran 18 tahun silam di Medan Sumatera Utara tepatnya 19 Januari 2001 ini sejak duduk di bangku sekolah sudah tertarik dengan dunia syair syair bernada yang berjaya diera sekitar tahun 1940 – 1980 tersebut. Pemuda yang pernah sekolah di SD Muhammadiyah tahun 2006, dan mengecapi Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) negeri 7 Dimedan, serta menyelesaikan program sekolah 9 tahunnya yakni Sekolah Menengah Atas ( SMA ) Negeri 3 Medan ini ditahun 2015 lalu.

Sejak menjadi anggota teater sekolah, tentu memiliki dasar kuat di bidang kesastraan dan seni. Ditambah lagi bakat bermain alat musik yang tidak diragukan, Rassya menjadi paket komplit seorang seniman sejati. Hobinya tersebut sudah mengantarkan ia menyabet beberapa trohpy juara pada kompetisi musikalisasi puisi mulai dari tingkat daerah hingga nasional.

Kejuaraan yang pernah ia ikuti dan raih yaitu Festival musikalisasi puisi tingkat provinsi yang diadakan di kota Medan, dilanjutkan dengan kegiatan serupa bertaraf se-kepulauan (Sumatera) yang berlangsung di kota Padang Sumatera Utara, hingga pencapaian tertingginya  ketika Rassya mengikuti kejuaraan oleh acara yang sama namun berstandar nasional di Ibu Kota Indonesia, Jakarta.

FBC91FC2-1456-4F87-8668-5B4177F3B741

Keterangan Foto : Rassya Priyandira Piawai Bermain Gitar

Selain musikalisasi puisi, Rassya yang mahir memainkan alat musik juga tergabung di salah satu band yang ia dirikan bersama teman temannya yaitu Story for Luna. Band beraliran post rock ini memulai debutnya di tahun 2017 silam dan mulai mengembangkan sayapnya di dunia permusikan lokal. Single terbaru mereka “Stay or Leave, End it” kini dapat didengarkan di aplikasi musik online seperti Spotify. Di Story for Luna sendiri, Rassya memainkan alat musik Bass. Terkenal dengan seorang yang ahli bermain gitar, maka tidak heran jika gitar bass masih menjadi ranah keahliannya.

Melalui hobi bermain gitar, tidak seperti musikalisasi puisi, cakupan publikasi Rassya lebih luas. Selain bisa menuangkan hobinya tersebut dengan menjadi salah satu personil band, ia mengakui lebih banyak kompetisi atau festival dengan cabang lomba alat musik, terutama gitar. Maka dari itu, kini, Rassya cukup fokus dengan hobi gitar nya dibanding musikalisasi puisi yang memang tidak semarak.

Adapun kegiatan kegiatan yang mendukung hobinya yang sudah pernah ia lakukan adalah kejuaraan FLS2N tingkat Kota Medan, dan beberapa festival sekolah juga universitas.Dibalik kesibukannya sebagai personil band, Rassya tetap tidak melalaikan tugasnyasebagai mahasiswa. Ia tetap aktif berkuliah di Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU )dan kini sudah duduk di semester 2. Bahkan, ia juga mengikuti organisasi di kampusnya sebagai reporter di Pers Mahasiswa PIJAR. Rassya juga beberapa kali ditunjuk sebagai penanggungjawab kegiatan di kampusnya.

Ia menunjukkan bahwa membagi waktu secara maksimal mungkin saja jika didasari niat yang siap. Kini, besar harapan Rassya bahwagenerasi muda kini mau melestarikan budaya sastra Indonesia meskipun dilanda efek globalisasi besar-besaran. Menurutnya, generasi muda Indonesia sebenarnya sangat mumpuni dalam segi kreatifitas apalagi bidang sastra. Hanya saja, memang butuh tekad dan motivasi yang kuat agar mau berpartisipasi melestarikan budaya. Rassya juga berkata, Indonesia harus lebih memikirkan tingkat kecerdasan non-akademis generasi mudanya. Karena tidak semua orang memiliki karakter yang sama. Ia berharap musikalisasi puisi ataupun hobi hobi lainnya tidak lekang oleh perkembangan zaman.

Jurnalis Sergai.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here